Kamis, 16 Mei 2013

0

Zaman Bani Abbasiyah

Posted in ,
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Di kala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya, lahirlah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Ketika menginjak usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW lebih  banyak bertahan, yang pada malam 17 Ramadhan / 06 Agustus 610 M di Gua Hiro, datanglah malaikat Jibril dengan membawa wahyu pertama, yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Dengan wahyu tersebut beliau telah menjadi Rasul pilihan Allah yang bertugas menyampaikan perintah Allah kepada segenap umat manusia. Semasa kerasulannya, beliau banyak membawa pengikut kepada ajaran Allah. Hingga peradaban Islam pun tertanam pada hati segenap umatnya dan dalam lingkungannya.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, kekhalifahan dipegang oleh Khulafaur- Rasyidin.  Banyak upaya yang dilakukan pada masa-masa tersebut hingga pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Dengan meninggalnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, maka bentuk pemerintahan kekhalifahan telah berakhir.
Berubahnya bentuk pemerintahan dari khalifah ke dinasti (kerajaan) tidak membuat ajaran Islam berubah pula, melainkan peradabannya mengalami perkembangan yang pesat. Kemudian dilanjutkan dengan bentuk pemerintahan dinasti (kerajaan), yaitu dinasti Bani Umayyah dan dinasti Bani Abbasiyah.
Dalam makalah ini, akan kami singgung tentang Sejarah Peradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah yang secara terperinci yang akan di paparkan dalam pembahasan makalah ini.  Semoga Allah SWT memberi keridhaan atas pembuatan makalah Sejarah Peradaban Islam tentang Dinasti Abbasiyah ini dan dapat menyumbangkan pengetahuan serta dapat berfaedah bagi kita semua amin.


1.2.       Rumusan Masalah
A.          Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah ?
B.           Siapa saja para Khalifah pada masa Bani Abbasiyah ?
C.           Apa saja faktor – faktor keberhasilan pada masa Bani Abbasiyah ?
D.          Bagaimana kemajuan dan kejayaan Dinasti Abbasiyah ?
E.           Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah ?
F.            Bagaimana akhir kekuasaan Dinasti Abbasiyah ?

1.3.       Tujuan Makalah
A.          Untuk mengetahui sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah.
B.           Untuk mengetahui siapa saja para Khalifah pada masa Bani Abbasiyah.
C.           Untuk mengetahui faktor – faktor keberhasilan pada masa Bani Abbasiyah.
D.          Untuk mengetahui kemajuan dan kejayaan Dinasti Abbasiyah.
E.           Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah.
F.            Untuk mengetahui bagaimana akhir dari kekuasaan Dinasti Abbasiyah.


BAB II
PEMBAHASAN


A.                Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah adalah melanjutkan kekuasaan Dinasti Bani Umayyah yang berpusat di Baghdad. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa Dinasti ini adalah keturunan Abbas, paman nabi Muhammad  SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M, oleh Abdul Abbas Ash-Shafah, sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung selama 5 abad, yaitu dari tahun 132-656 H (750-1258 M). Pada abad  ketujuh  terjadi  pemberontakan diseluruh  negeri.  Pemberontakan  yang paling  dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abdul Abbas melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah). Yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abdul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria, berakhirlah riwayat Dinasti Bani Umayyah dan bersama dengan itu bangkitlah kekuasaan Abbasiyah.
Dari sini dapat diketahui bahwa bangkitnya Daulah Abbasiyah bukan saja pergantian Dinasti akan tetapi lebih dari itu adalah penggantian struktur sosial dan ideologi. Sehingga dapat dikatakan kebangkitan Daulah Bani Abbasiyah merupakan suatu  revolusi.
Sebelum Daulah Bani Abbasiyah berdiri, terdapat 3 tempat yang menjadi pusat kegiatan  kelompok Bani Abbas, antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman Nabi SAW. yaitu Abbas Abdul Mutholib. Tiga tempat itu adalah Humaimah, Kufah dan Khurasan.
Humaimah merupakan kota kecil tempat keluarga Bani Hasyim bermukim, baik dari kalanga pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Humaimah terletak berdekatan dengan Damsyik. Kufah merupakan kota yang penduduknya menganut aliran Syi‘ah pendukung Ali bin Abi Thalib. Kemudian, Khurasan merupakan kota yang penduduknya mendukung Bani Hasyim. Ia mempunyai warga yang pemberani, kuat fisiknya, tegap tinggi, teguh pendirian tidak mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung dengan kepercayaan yang menyimpang. Disinilah diharapkan dakwah kaum Abbassiyah mendapatkan dukungan.


Pemerintahan Abdul Abbas Ash-Shaffah
Seluruh anggota keluarga Abbas dan pimpinan umat Islam menyatakan setia kepada Abdul Abbas Ash-Shaffah sebagai khalifah mereka. Ash-Shaffah kemudian pindah ke Ambar, sebelah barat sungai Eufrat dekat Baghdad. Ia menggunakan sebagian besar dari masa pemerintahannya untuk memerangi para pemimpin Arab yang kedapatan membantu Bani Umayyah. Ia mengusir mereka kecuali Abdurahman, yang tidak lama kemudian mendirikan Dinasti Umayyah di Spanyol.
Kekhalifahan Ash-Shaffah hanya bertahan selama 4 tahun, sembilan bulan. Ia wafat pada tahun 136 H di Abar, satu kota yang telah dijadikannya sebagai tempat kedudukan pemerintahan.
Selama Dinasti Abbasiyah berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi lima periode :
a.   Periode pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan Persia pertama.
b.      Periode kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama.
c.    Periode ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
d.   Periode keempat (447 H/1055 M - 590 H/1194 M), disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
e.   Periode kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain,tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.

B.           Para Khalifah Bani Abbasiyah
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul kokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan, politik, dan agama. Disisi lain kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi.
Sebelum Abdul Abbas Ash-Shaffah meninggal, ia sudah mewasiatkan siapa penggantinya, yakni saudaranya, Abu Ja’far, kemudian Isa bin Musa, keponakannya. Para khalifah Bani Abbasiyah berjumlah 37 khalifah, tetapi ada beberapa khalifah pada masa pemerintahannya mencapai masa keemasan, yaitu:
1.              Al-Mahdi (775-785 M)
Al-Mahdi dilahirkan di Hamimah pada tahun 126 H. Sewaktu ayahnya al-Mansur mulai menjadi khalifah, al-Mahdi berusia 10 tahun dan Isa bin Musa sebagai putra mahkota bakal pengganti al-Mansur menurut perjanjian yang dibuat oleh Abul Abbas as-Saffah, tetapi al-Mansur berniat untuk mencalonkan anaknya menjadi penggantinya kelak. Karena itu beliau mengambil langkah-langkah untuk mengasuh dan mengajarnya tentang kepahlawanan dan cara-cara memimpin tentara.
Ketika al-Mahdi menjadi khalifah, negara telah dalam keadaan stabil dan mantap, dapat mengendalikan musuh-musuh dan keuangannya pun telah terjamin. Karena itu zaman pemerintahan al-Mahdi terkenal sebagai zaman yang makmur dan hidup dalam kedamaian. Al-Mahdi telah memerintah supaya dibangun beberapa buah bangunan besar di sepanjang jalan yang menuju ke Makkah sebagai tempat persinggahan para musafir, memerintahkan supaya dibuat kolam-kolam air untuk kepentingan kelompok-kelompok kafilah dan hewan-hewan mereka dan mengadakan hubungan pos di antara kota Bagdad dan wilayah-wilayah islam yang terkemuka.
2.             Al-Hadi (775-786 M)
Al-Hadi adalah khalifah pengganti al-Mahdi yang merupakan anaknya sendiri, pada tahun 166 H al-Mahdi melantik pula anaknya yang seorang lagi yaitu Harun ar-Rasyid sebagai putra mahkota bakal pengganti al-Hadi. Kalau al-Mahdi wafat, al-Hadi dilantik menjadi khalifah yang menggantikannya secara resmi.
Khalifah al-Hadi ialah khalifah yang tegas, walaupun beliau gemar berhibur dan bersenda gurau. Seperti yang telah diketahui khalifah al-Hadi adalah seorang yang berhati lembut, berjiwa bersih, berakhlak baik, baik tutur katanya, senantiasa berwajah manis dan jarang menyakiti orang.
3.             Harun ar-Rasyid (785-809 M)
Harun ar-Rasyid dilahirkan di Raiyi pada tahun 145 H, ibundanya adalah Khaizuran, bekas seorang hamba yang juga ibunda al-Hadi. Beliau telah dibesarkan dengan baik sewaktu beliau diasuh agar berpribadi kuat dan berjiwa toleransi. Ayahanda beliau al-Mahdi telah memikulkan beban yang berat, bertanggung jawab memerintah negeri dengan melantik beliau sebagai amir di Saifah pada tahun 163 H. Pada tahun 164 H beliau dilantik memerintah seluruh wilayah Anbar dan negeri-negeri di Afrika Utara. Harun ar-Rasyid telah melantik pula beberapa orang pegawai tinggi, mewakili beliau di kawasan-kawasan tersebut.
Pribadi dan akhlak Khalifah Harun ar-Rasyid adalah baik dan mulia yang menyebabkan beliau sangat dihormati dan disegani. Beliau adalah salah seorang khalifah yang suka bercengkrama, alim dan dimuliakan. Selain itu, beliau juga terkenal sebagai seorang pemimpin yang pemurah dan suka berderma. Beliau juga menyukai musik, ilmu pengetahuan dan dekat dengan para ulama serta penyair.
 Pada zaman pemerintahan Harun ar-Rasyid, Baitul Mal ditugaskan menanggung narapidana dengan memberikan setiap orang makanan yang cukup serta pakaian musim panas dan musim dingin. Sebelum itu khalifah al-Mahdi juga berbuat demikian tetapi dengan nama pemberian, sementara Khalifah Harun ar-Rasyidmenjadikannya suatu tugas  dan tanggung jawab Baitul Mal.
Khalifah Harun ar-Rasyid mampu membawa negeri yang dipimpinnya ke masa kejayaan, kemakmuran dan kesejahteraan. Berikut usaha Harun ar-Rasyid selama masa pemerintahannya:
·                Mengembagkan bidang ilmu pengetahuan dan seni.
·                Membangun gedung-gedung dan sarana sosial.
·                Memajukan bidang ekonomi dan industri.
·                Memajukan bidang politik pertahanan dan perluasan wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah.
4.             Al-Ma`mun (813-833 M)
Nama lengkap khalifah ini adalah Abdullah Abdul Abbas al-Ma`mun, adalah anak dari Khalifah Harun ar-Rasyid yang dilahirkan pada tanggal 15 Rabiulawal tahun 170 H/786 M. Kelahirannya bertepatan dengan wafat kakeknya yaitu Musa al-Hadi, juga bersamaan dengan waktu ayahnya diangkat menjadi khalifah. Adapun ibunda al-Ma’mun adalah seorang bekas hamba sahaya yang bernama Marajil.
Selain sebagai seorang pejuang yang pemberani beliau juga sebagai seorang pengusaha yang bijaksana. Semangat berkarya, bijaksana, pengampun, adil, cerdas merupakan sifat-sifat yang menonjol dalam pribadi al-Ma’mun.
Khalifah Abdullah al-Ma’mun selama menjabat sebagai pemimpin Daulah Abbasiyah telah berusaha melakukan perbaikan-perbaikan hal sebagai berikut:
·                Menghentikan berbagai gerakan pemberontakan untuk menciptakan stabilitas dalam negeri.
·                Penertiban administrasi negara untuk penataan kembali sistem pemerintahan.
·                Pembentukan badan negara.
·                Pembentukan Baitul Hikmah dan Majlis Munazarah.
Lembaga Baitul Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan (daur al-kutub), yang tampaknya juga aktif disana para guru, para ilmuan, disamping aktivitas penerjemahan, penulisannya dan penjilidannya.
5.             Al-Mutashim (833-842 M)
Abu Ishak Muhammad Al-Mutashim lahir pada tahun 187 H. Ibunya bernama Maridah. Beliau dibesarkan dalam suasana ketentaraan, karena sifat berani dan minatnya untuk menjadi pahlawan. Di masa pemerintahan al-Ma’mun, al-Mutashim merupakan tangan kanannya dalam menyelesaikan kesulitan dan memimpin peperangan. Al-Mamun juga melantik al-Mutashim sebagai pemerintah di negeri Syam dan Mesir, kemudian melantiknya pula sebagai putra mahkota. Al-Mu’tashim menyandang jabatan khalifah sesudah wafatnya, al-Ma’mun.
Beliau mendirikan istana, masjid dan sekolah-sekolah. Tidak lama kemudian Samara mulai megah seperti Baghdad, tetapi beliau tidak pernah menggantikan Baghdad sebagai pusat intelektual yang besar. Hal ini juga didukung oleh kondisi perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini berkembang dengan pesat, bukan hanya ilmu pengetahuan umum tetapi ilmu pengetahuan agama.
6.             Al-Watsiq (842-847 M)
Al-Watsiq dilahirkan pada tahun 196 H, ibunya keturunan Roma bernama Qaratis. Al-Watsiq berperibadi luhur, berpikiran cerdas dan berpandangan jauh dalam mengurus segala perkara. Bapaknya telah memberinya kekuasaan di Baghdad, ketika al-Mu`tashim berpindah ke Samara bersama-sama dengan angkatan tentaranya kemudian melantiknya sebagai putra mahkota bakal khalifah. Al-Watsiq telah menyandang jabatan khalifah setelah wafatnya al-Mutashim, ayahnya.
Al-Watsiq adalah penguasa yang sangat cakap, pemerintahannya mantap dan penuh perhatian, beliau banyak memberikan uang dan menolong ilmu pengetahuan sepenuhnya, industri maju dan perdagangan lancar.
7.             Al-Mutawakkil (847-861 M)
Jafar al-Mutawakil adalah putra al-Mutasim Billah (833-842) dari seorang wanita persia. Beliau menggantikan saudaranya al-Watsiq. Selama masa pemerintahannya al-Mutawakil menunjukkan rasa toleran terhadap sesama. Al-Mutawakkil mengandalkan negarawan Turki dan pasukannya untuk meredam pemberontakan dan memimpin pasukan menghadapi pasukan asing. Al-Mutawakkil wafat pada tanggal 11 Desember 861 M.

C.           Faktor-Faktor Keberhasilan Bani Abbasiyah
Bani Abbasiyah mencapai puncak keemasannya karena terdapat beberapa faktor diantaranya adalah :
1.             Islam makin meluas tidak di Damaskus tetapi di Baghdad.
2.             Adanya perkembangan ilmu pengetahuan.
3.             Dalam penyelenggaraan negara pada masa Bani Abbasiyah ada jabatan wazir.
4.      Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia dan berharga.Para khalifah membuka kesempatan pengembagan pengetahuan seluas-luasnya.
5.             Rakyat bebas berpikir serta memperoleh hak asasinya dalam segala bidang.
6.          Daulah Abbasiyah, berbakat  usaha yang sungguh-sungguh membangun ekonominya. Mereka memiliki pembendaharaan yang berlimpah-limpah disebabkan penghematan dalam pengeluaran.
7.        Para khalifah banyak mendukung perkembangan ilmu pengetahuan sehingga banyak buku-buku yang dikarang dalam berbagai ilmu pengatahuan, serta buku-buku pengetahuan berbahasa asing diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
8.             Adanya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan ilmu pengetahuan, asimilasi itu berlangsung efektif dan bangsa-bangsa tersebut memberi saham pengetahuan yang bermanfaat.

D.           Kemajuan dan Kejayaan Dinasti Abbasiyah
Kemajuan peradaban bani abbasiyah baru tercapai ketika masa khalifah harun al-rasid, kemajuan ini dipicu atas kebijakan-kebijakan yang baik dari khalifah. Secara umum kemajuan dan kejayaan Bani Abbasiyah ditinjau dari berbagai bidang:
1.             Bidang Filsafat
Kajian filsafat di kalangan umat Islam mencapai puncaknya pada masa Daulah Abbasiyah, di antaranya dengan penerjemah filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Para filsafat Islam antara lain:
a.              Al-Khindi (811-874 M)
Abu Yusuf Ishak Al-Khindi,beliau terkenal sebagai filsuf muslim pertama.Beliau mengarang sebanyak kurang lebih 236 buah kitab tentang ilmu mantik, filsafat, handasah, hisab, musik, nujum, dan lain-lain. Diantara karyanya adalah Kimiyatul Itri, Risalah fi Faslain, Risalah fi Illat an Nafs ad Damm dan lain-lain.
b.             Al-Farabi (870-950 M)
Abu Nashr Muhammad bin Muhammad Tarkhan Al-Farabi, nama filsuf al-Farabi menjadi terkenal setelah masa al-Khindi. Beliau lahir di Farab pada tahun 870 M dan wafat di Damaskus pada tahun 95 M. Diantara karyanya yaitu Tahsilus Saadah, Assiyasatul  Madaniyah, Tanbih ala Sabilis Saadah dan lain-lain.
c.              Ibnu Sina (980-1037 M)
Ar-Rais Abu Ali Husain bin Abdullah yang lebih terkenal dengan Ibnu Sina. Beliau lahir di Afsyanah, Bukhara pada tahun 980  M, dan wafat di Hamdan pada tahun 1037 M. Beliau adalah seorang dokter dan filsuf ternama. Ibnu Sina meninggalkan karyanya sebanyak kurang lebih 200 buah. Diantara karya buku filsafatnya adalah Al Isyarat wa At Tanbihat, Mantiq Al Masyriqiyyin dan lain-lain.
d.             Ibnu Bajjah (453-523 H)
Abu Bakar Muhammad bin Yahya atau Ibnu Bajjah .Beberapa karyanya yang bernilai tentang filsafat, antara lain Tadbirul Mutawahhid, Fi an Nafs, dan Risalatul Ittisal.
e.              Ibnu Rusyd (529-595 H)
Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusydi lahir pada tahun 520 H di Kordova. Diantara karyanya dalam bidang filsafat adalah Mabadiul Falasifah, Tahafutut Tahafut, Kulliyan dan lain-lain.
f.              Ibnu Thufail (225-287 H)
Abu Bakar bin Abdul Malik bin Thufail, beliau adalah salah seorang murid Ibnu Bajjah. Diantara karangannya adalah  Hayy bin Yaqzan.
g.             Al-Ghazali (1058-1111 M)
Abu Hamid bin Muhammad at-Tusi al-Ghazali lahir pada tahun 1058 M dan wafat pada tahun 1111 M. Diantara karyanya adalah Tahafutul Falasifah, Ar-Risalatul Qudsiyah dan Ilya Ulumuddin.
2.             Bidang Kedokteran
a.        Ibnu Sina (980-1037 M)
Selain sebagai filsuf beliau juga terkenal sebagai seorang dokter. Diantara kitabnya adalah Asy Syifa` dan Al Qonun Fitthibb.
b.       Ar-Razi (194-264 H)
Abu Bakar bin Zakaria ar-Razi,beliau adalah seorang dokter yang paling masyhur di zamannya, beliau menjadi ketua dokter di Baghdad. Diantara kitab karangannya adalah Al Hawi dan Fi Al Judari Wa Al Hasbat.
c.        Ibnu Baytsar (810-878 M)
Beliau adalah ahli farmasi dan kimia. Karyanya yang terkenal adalah Al-Mughni, Mizanut Thabib dan Jami Mufradtil Adwiyah wa Aghniyah.
3.             Bidang Matematika
Dalam bidang ini salah satu ahlinya adalah al-Khawarizmi. Buku pertamanya adalah Al-Jabar (buku pertama yang membahas solusi sistematik dari lnier dan notasi kuadrat), sehingga beliau disebut sebagai Bapak Aljabar. Kata aljabar berasal dari kata aljabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat.
4.             Bidang Astronomi
Berkembang subur di kalangan umat Islam, sehingga banyak para ahli yang terkenal dalam perbintangan ini seperti :
a.         Al Farazi : pencipta Astro lobe.
b.         Al Gattani/Al Betagnius.
c.         Abul wafat : menemukan jalan ketiga dari bulan.
d.        Al Farghoni atau Al Fragenius.
5.             Bidang Seni Ukir
Beberapa seniman ukir terkenal: Badr dan Tariff (961-976 M) dan ada seni musik, seni tari, seni pahat, seni sulam, seni lukis dan seni bangunan.
6.             Bidang Agama
a.    Ilmu Tafsir
Para musafir yang termasuk adalah Ibnu Jarir ath Tabary, Ibnu Athiyah al
Andalusy (wafat 147 H), As Suda, Mupatil bin Sulaiman (wafat 150 H), Muhammad binIshak dan lain-lain.
b.    Ilmu Hadist
Muncullah ahli-ahli hadist ternama seperti: Imam Bukhori (194-256 H),
Imam Muslim (wafat 231 H), Ibnu Majah (wafat 273 H), Abu Daud (wafat 275 H), At Tarmidzi, dan lain-lain.
c.    Ilmu Kalam
Dalam kenyataannya kaum Mu’tazilah berjasa besar dalam menciptakan
ilmu kalam, diantaranya para pelopor itu adalah Wasil bin Atha’, Abu Huzail al Allaf, Adh Dhaam, Abu Hasan Asy’ary, Hujjatul Islam Imam Ghazali.
d.   Ilmu Tasawuf
Ahli-ahli dan ulama-ulamanya adalah Al Qusyairy (wafat 465 H), karangannya adalah ar Risalatul Qusyairiyah; Syahabuddin (wafat 632 H), karangannya adalah Awariful Ma’arif dan Imam Ghazali, karangannya adalah al Bashut, al Wajiz dan lain-lain.

E.            Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya, pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama di bidang politik. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan.
Disamping kelemahan Khalifah, ada dua faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur, yaitu faktor internal dan eksternal, dimana kedua factor tersebut saling berkaitan satu sama lain, yaitu sebagai berikut:
1.                  Faktor Internal
a.        Persaingan antar Bangsa
Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal Khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para Khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah al-Mutawakkil, seorang Khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki tidak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Daulah Abbasiyyah sebenarnya sudah berakhir.
b.       Kemerosotan Ekonomi
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Kedua faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
c.        Konflik Keagamaan
Konflik yang melatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara Muslim dan Zindik atau Ahlussunnah dengan Syi’ah saja, tetapi juga antara aliran dalam Islam.
d.       Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan
Kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, yang kemudian ditiru oleh para haratawan dan anak-anak pejabat sehingga menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.
2.            Faktor Eksternal
a.       Perang Salib
Dalam perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. Namun, diantara komunitas-komunitas Kristen Timur, hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu. Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol.
b.      Serangan tentara Mongol (1258 M)
Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam menyebabkan kekuatan Islam menjadi Lemah, apalagi serangan Hulagu Khan dengan pasukan Mongol yang biadab menyebabkan kekuatan Abbasiyah menjadi lemah dan akhirnya menyerah kepada kekuatan Mongol.

F.            Akhir Kekuasaan Dinasti Abbasiyah
Akhir dari kekuasaan Dinasti Abbasiyah ialah ketika Baghdad dihancurkan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan, 656 H/1258 M. Hulagu Khan adalah seorang saudara Kubilay Khan yang berkuasa di Cina hingga ke Asia Tenggara, dan saudara Mongke khan yang menugaskannya untuk mengembalikan wilayah-wilayah sebelah dari Cina ke pangkuannya. Baghdad dibumihanguskan dan diratakan dengan tanah. Khalifah Bani Abbasiyah yang terakhir dengan keluarganya, Al-Mu’tashim Billah dibunuh, buku-buku yang terkumpul di Baitul Hikmah dibakar dan dibuang kesungai Hingga berubahlah warna air sungai tersebut yang jernih bersih menjadi hitam kelam karena lunturan tinta yang ada pada buku-buku itu.
Dengan demikian, lenyaplah Dinasti Abbasiyah yang telah memainkan peran penting dalam percanturan kebudayaan dan peradaban Islam dengan gemilang.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Daulah Abbasiyah merupakan lanjutan dari pemerintahan Daulah Umayyah.
Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendirinya adalah keturunan Abbas, paman
Nabi.
Kekuasaannya berlangsung dari tahun 750-1258 M. Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M, oleh Abdul Abbas Ash-Shafah, sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung selama 5 abad, yaitu dari tahun 132-656 H (750-1258 M).
Para khalifah Bani Abbasiyah berjumlah 37 khalifah, tetapi ada beberapa khalifah pada masa pemerintahannya mencapai masa keemasan, yaitu:
1.                  Al-Mahdi
2.                  Al-Hadi
3.                  Harun ar-Rasyid
4.                  Al-Ma`mun
5.                  Al-Mu`tashim
6.                  Al-Watsiq
7.                  Al-Mutawakkil

Faktor-Faktor keberhasilan pada masa Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut, yaitu:
a.                   Islam makin meluas tidak di Damaskus tetapi di Baghdad.
b.                  Adanya perkembangan ilmu pengetahuan.
c.                   Dalam penyelenggaraan negara pada masa Bani Abbasiyah ada jabatan wazir.
d.                  Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia dan berharga.Para khalifah membuka kesempatan pengembagan pengetahuan seluas-luasnya.
e.                   Rakyat bebas berpikir serta memperoleh hak asasinya dalam segala bidang.
f.                   Daulah Abbasiyah, berbakat  usaha yang sungguh-sungguh membangun ekonominya. Mereka memiliki pembendaharaan yang berlimpah-limpah disebabkan penghematan dalam pengeluaran.
g.                  Para khalifah banyak mendukung perkembangan ilmu pengetahuan sehingga banyak buku-buku yang dikarang dalam berbagai ilmu pengatahuan, serta buku-buku pengetahuan berbahasa asing diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
h.                  Adanya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan ilmu pengetahuan, asimilasi itu berlangsung efektif dan bangsa-bangsa tersebut memberi saham pengetahuan yang bermanfaat.
Daulah Bani Abbasiyah mengalami kejayaan dan kemajuan yang sangat pesat dalam berbagai bidang, diantaranya adalah dalam bidang Filsafat, bidang Kedokteran, bidang Matematika, bidang Astronomi, bidang seni ukir dan bidang Agama.
Ada dua faktor yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah, yaitu faktor internal dan eksternal.
1.                  Faktor Internal
a.       Persaingan antar Bangsa.
b.      Kemerosotan Ekonomi.
c.       Konflik Keagamaan.
d.      Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan
2.                  Faktor Eksternal
a.       Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban.
b.      Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.
Kekuasaan Dinasti Abbasiyah Berakhir


DAFTAR PUSTAKA


Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam dirasah islamiyah II, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta:2000.
Abdurrahman,dkk.. Sejarah Peradaban Islam. Yokyakarta: Lesfi. 2003
Karim,Abdul,M,Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam,Yogyakarta:Pustaka Book Publisher,2007
Drs. Munir, Samsul. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: AMZAH. 2010


0 komentar: