Kamis, 16 Mei 2013

0

Qiyas

Posted in ,


BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Qiyas
Secara bahasa (etimologi), qiyas berarti mengukur sesuatu atas sesuatu yang lainnya dan mempersamakannya. Sedangkan menurut istilah (terminologi), terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para ahli ushul fiqh, di antaranya adalah:
1.             Al-Qadli Abu Bakar al-Baqillani, mendefinisikan qiyas sebagai berikut:

حمل معلوم على معلوم في إثبات حكم لهما أو نفي عنهما بأمر جامع بينهما من إثبات حكم أو نفي عنهما
“Memasukkan/menanggungkan sesuatu yang diketahui (far’) kepada sesuatu yang diketahui (ashl)  dalam hal menetapkan hukum pada keduanya atau meniadakan hukum dari keduanya disebabkan ada hal yang sama di antara keduanya.”
2.             Sadr al-Syari’ah ibn Mas’ud mendefinisikannya :

تَعَدِّ يَّةُ ا لْحُكْمِ مِنَ ا لأ صْلِ اِلَى الْفَرْ عِ لِعِلَّةٍ مُتَّحِدَ ةٍ لاَ تُدْ رَ كَ بِمُجَرَّ دِ ا لْلُّغَةِ
 “Qiyas yaitu memberlakukan hukum ashl kepada hukum furu’ disebabkan kesatuan ‘‘illat yang tidak dapat dicapai melalui pendekatan bahasa saja.”
Mengenakan hukum dari ashl kepada far’ karena adanya ‘illat yang mempersatukannya yang tidak bisa diketahui melalui pendekatan bahasa (literal) semata.


3.             Abu Zahrah memberikan definisi qiyas sebagai berikut :

إلحاق أمر غير منصوص على حكمه بأمر آخر منصوص على حكمه للاشتراك بينهما في علة الحكم
“Menghubungkan suatu perkara yang tidak ada nash tentang hukumnya kepada perkara lain yang ada nash hukumnya karena keduanya berserikat dalam ‘illat hukum.”
4.             Abdul Wahab Khallaf mendefinisikan qiyas sebagai berikut :

إلحاق واقعة لا نص على حكمها بواقعة ورد نصبحكمها في الحكم الذي ورد به النص لتساري الواقعتين في علة هذا الحكم
“Qiyas adalah, menyamakan hukum atas kejadian-kejadian baru yang belum ada nash hukumnya dengan kejadian-kejadian yang telah ada nash hukumnya, dalam hal berlakunya hukum nash karena adanya ‘illah hukum yang sama di antara kedua kejadian itu.”
Menghubungkan suatu kejadian yang tidak ada nashnya kepada kejadian lain yang ada nashnya, dalam hukum yang telah ditetapkan oleh nash karena adanya kesamaan dua kejadian itu dalam ‘illat hukumnya.
Dari uraian beberapa definisi diatas tentang pengertian qiyas, dapat disimpulkan bahwa setiap definisi tersebut sepakat terhadap hal-hal berikut ini :
a.              Terdapat dua perkara yang memiliki ‘illat yang sama.
b.             Dari dua perkara tersebut, Satu di antaranya sudah memiliki ketetapan  hukum yang berdasarkan nash (ashl), sedangkan perkara yang satu lagi belum diketahui hukumnya (far’).
c.              Berdasarkan ‘illat yang sama itulah, seorang mujtahid menetapkan hukum pada kasus yang tidak ada nashnya itu seperti hukum yang berlaku pada kasus yang hukumnya telah ditetapkan berdasarkan nash.
Maka apabila suatu nash telah menunjukkan hukum mengenai suatu kasus dan illat hukum itu telah diketahui melalui salah satu metode untuk mengetahui illat hukum, kemudian ada kasus lainnya yang sama dengan kasus yang ada nashnya itu dalam suatu illat yang illat hukum itu juga terdapat pada kasus itu, maka hukum kasus itu disamakan dengan hukum kasus yang ada nashnya, berdasarkan atas persamaan illatnya, karena sesungguhnya hukum itu ada di mana illat hukum ada.
Beberapa contoh qiyas sebagai hukum syara’ dan hukum positif yang dapat menjelaskan definisi tersebut :
1.             Meminum khamar adalah kasus yang ditetapkan hukumnya oleh nash, yaitu pengharaman,Allah SWT. berfirman :
اِنَّمَااْخَمْرُوَاْلمَيْسِرُوَاْلاَنْصَابُ وَاْلاَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَا نِ فَا جْتَنِبُوْ هُ.
Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu....” (QS. Al-Maidah : 90).
Karena suatu illat, yaitu : memabukkan. Maka setiap minuman keras yang terdapat padanya illat memabukkan disamakan dengan khamar mengenai hukumnya dan haram meminumnya.
2.             Pembunuhan, yang dilakukan oleh ahli waris terhadap orang yang mewariskan, adalah kejadian yang telah ditetapkan hukumnya oleh nash, yaitu dicegahnya pembunuh dari memperoleh harta pusaka, yang ditunjuki oleh sabda Rasulullah saw. :
لاَيَرِ ثُ الْقَاتِلُ.
“Orang yang membunuh tidak memperoleh bagian harta pustaka”.
Karena suatu illat, yaitu bahwasannya membunuh orang yang mewariskan itu adalah menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, maka maksudnya itu ditolak dan ia dihukum dengan tidak memperoleh bagian harta pustaka. Selanjutnya pembunuhan yang dilakukan oleh orang yang menerima wasiat terhadap pemberi wasiat, di dalamnya terdapat illat tersebut, maka ia diqiyaskan dengan pembunuhan yang dilakukan oleh ahli waris terhadap orang yang mewariskannya, dan orang yang membunuh pemberi wasiat kepadanya dihalangi dari haknya menerima barang yang diwasiatkan itu.
3.             Jual beli pada waktu datangnya seruan adzan untuk shalat Jum’at adalah kejadian yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash, yaitu makruh, yang ditunjuki oleh firman Allah SWT. :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) šÏŠqçR Ío4qn=¢Á=Ï9 `ÏB ÏQöqtƒ ÏpyèßJàfø9$# (#öqyèó$$sù 4n<Î) ̍ø.ÏŒ «!$# (#râsŒur yìøt7ø9$# .
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli...”
Karena suatu illat, yaitu kesibukan yang melalaikan terhadap shalat. Sedangkan sewa-menyewa, penggadaian, ataupun segala bentuk muamalah lainnya pada waktu panggilan shalat Jum’at, di dalamnya terdapat illat tersebut juga, yaitu kesibukan yang melalaikan terhadap shalat, maka hal-hal tersebut diqiyaskan dengan jual beli mengenai hukumnya, lantas hal-hal itu dimakruhkan pada waktu panggilan untuk shalat.
4.             Kertas yang dibubuhi dengan tanda tangan di atasnya adalah kejadian yang hukumnya telah ditetapkan berdasarkan nash, yaitu bahwa ia menjadi hujjah atas pemberian tanda tangan, yang didasarkan dalil berupa : teks undang-undang keperdataan, karena suatu illat, yaitu : bahwasannya pembubuhan tanda tangan oleh si penanda-tangan menunjukkan atas dirinya. Sedangkan kertas yang dicap dengan jari juga padanya ditemukan illat ini, maka ia diqiyaskan dengan kertas yang ditanda tangani mengenai hukumnya, dan ia menjadi bukti atas pemberian cap jari itu.
5.             Pencurian yang dilakukan antara orang tua dan anak-anaknya, dan antara suami dan istri tidak boleh diajukan tuntutan hukum terhadap pelakunya, kecuali didasarkan atas tuntutan dari pihak korban dalam undang-undang pidana. Kemudian perbuatan ghashab (menggunakan hak milik orang lain tanpa izin) dan merampas harta orang lain dengan ancaman kekerasan, mengeluarkan cek kosong, dan tindak kekerasan, mengeluarkan cek kosong, dan tindak kekerasan lainnya juga diqiyaskan karena hubungan kekerabatan dan hubungan suami istri semuanya ada padanya.
Dari beberapa contoh di atas, kejadian yang tidak ada nash hukumnya disamakan dengan kasus yang ada nash hukumnya mengenai hukum yang dinashkan itu, berdasarkan atas adanya persamaan keduanya dalam segi illat hukum tersebut. Penyamaan antara dua kejadian dari segi hukumnya ini yang didasarkan atas persamaan illat keduanya ini adalah qiyas dalam istilah para ahli ushul fiqh.
Adapun perkataan mereka : “ menyamakan suatu kasus dengan dengan kasus lainnya, atau menghubungkan hukum suatu kejadian dengan kejadian lain, atau menjangkaukan hukum suatu kejadian ke kejadian lainnya, semuanya itu merupakan ungkapan yang sama, pengertiannya adalah satu.

B.            Qiyas sebagai Dalil Syar’i

Terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama dalam menyikapi penerimaan qiyas sebagai dalil Syar’i, yaitu :
1.             Mutsbitul Qiyas atau kelompok yang menetapkan kehujjahan qiyas sebagai dalil syar’i, kelompok ini adalah kelompok jumhur ulama. Mereka berpendirian bahwa Qiyas itu adalah menjadi hujjah syar’iyah (sumber hukum syari’at) bagi hukum-hukum amal perbuatan manusia, dan berada pada tingkatan keempat dari dalil-dalil syari’at. Yang demikian itu apabila pada suatu peristiwa itu tidak ada ketetapan hukumnya dari suatu nash atau ijma’ dan mempunyai persamaan ‘illat dengan peristiwa yang mempunyai nash.
2.             Nufatul Qiyas atau kelompok yang menolak/mengingkari/menafikan kehujjahan qiyas, kelompok ini adalah kelompok ulama Zhahiriyah, Nizhamiyah dan sebagian ulama aliran Syi’ah. Mereka berpendapat bahwa qiyas itu bukan menjadi hujjah syar’iyah yang dapat untuk menetapkan hukum. Zhahiriyah juga menolak penemuan ‘illat atas suatu hukum dan menganggap tidak perlu mengetahui tujuan ditetapkannya suatu hukum syara’.
Alasan yang dikemukakan oleh Jumhur Ulama dalam menetapkan kehujjahan Qiyas yang terdiri atas Al-Qur’an, As-Sunnah, pendapat dan perbuatan para sahabat dan logika.

a.             Al-Qur’an

Dalil-dalil dari Al-Qur’an yang dikemukakan oleh jumhur ulama dalam menerima qiyas sebagai dalil syar’i adalah :
Pertama, Surah An-Nisa’ ayat 59:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqߧ9$# Í<'ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrŠãsù n<Î) «!$# ÉAqߧ9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù's? ÇÎÒÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (As-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S an-Nisa’ : 59)
Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min, bila terjadi perselisihan pendapat perihal hukum sesuatu peristiwa yang di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah dan putusan dari orang-orang yang diserahi kekuasaan yidak ada, maka hendaklah dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian itu berarti mengikuti kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Qiyas menurut Zhahiriyah bukan Al-Qur’an atau Sunnah, karenanya tidak ada yang dapat dikembalikan kepada qiyas.
Kedua, Surah al-Hasyr ayat 2 :
uqèd üÏ%©!$# ylt÷zr& tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. ô`ÏB È@÷dr& É=»tGÅ3ø9$# `ÏB öNÏd̍»tƒÏŠ ÉA¨rL{ ÎŽô³ptø:$# 4 $tB óOçF^oYsß br& (#qã_ãøƒs ( (#þqZsßur Oßg¯Rr& óOßgçGyèÏR$¨B NåkçXqÝÁãm z`ÏiB «!$# ãNßg9s?r'sù ª!$# ô`ÏB ß]øym óOs9 (#qç7Å¡tGøts ( t$xs%ur Îû ãNÍkÍ5qè=è% |=ôã9$# 4 tbqç/̍øƒä NåksEqãç/ öNÍkÏ÷ƒr'Î/ Ï÷ƒr&ur tûüÏZÏB÷sßJø9$# (#rçŽÉ9tFôã$$sù Í<'ré'¯»tƒ ̍»|Áö/F{$# ÇËÈ  
Artinya :
“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama[1463]. Kami tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka, dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka. Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (Q.S. al-Hasyr : 2)
Dari ayat tersebut Allah telah menerangkan peristiwa yang terjadi pada Bani An-Nadhir, disebabkan tindakan mereka melanggar janji yang pernah mereka adakan dengan Rasulullah saw. Dia memerintahkan kepada orang-orang yang berwawasan luas untuk mengambil ibarat kejadian tersebut dalam firman-Nya :
 .̍»|Áö/F{$#Í<'ré'¯»tƒ (#rçŽÉ9tFôã$$sù
“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (Q.S. Al-Hasyr : 2)
Perintah untuk mengambil ibarat itu maksudnya ialah perintah untuk menganalogikan keadaan yang terdapat pada diri kita sendiri dengan keadaan yang terdapat pada diri mereka. Sebab kita adalah manusia sama dengan mereka. Jika kita mengerjakan seperti apa yang mereka kerjakan, niscaya menerima akibat sebagaimana akibat yang diterima oleh mereka. Menurut sunnatullah bahwa timbulnya suatu akibat ialah karena adanya sebab-sebab yang mendahuluinya. Jika sebab-sebab itu sama, tentu menimbulkan suatu akibat yang sama pula.
Kelompok Zhahiriyah menolak argumentasi jumhur ulama dengan mengatakan bahwa tidak ada peluang sedikitpun bagi qiyas dalam ayat tersebut. Tidak satupun ilmu mengenai bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa i’tibar berarti qiyas. Ayat tersebut memperkenalkan kebesaran dan kekuasaan Allah. Al-Ibrah dalam arti bahasa hanyalah penjelasan tentang sesuatu. Sama sekali tidak ada pengertian untuk menetapkan hukum tentang sesuatu yang tidak ditentukan dalam syari’at dengan hukum pada sesuatu yang disebutkan ketentuannya dalam syari’at.
Ketiga, Surah Yasin ayat 79, Allah berfirman :
ö@è% $pkŽÍósムüÏ%©!$# !$ydr't±Sr& tA¨rr& ;o§tB . 
Katakanlah Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama...(Q.S Yasin : 79).
Ayat ini merupakan jawaban kepada orang yang berkata :
مَنْ يُحْيِى العِظَا مَ وَ هِىَ رَ مِيْمٌ
"Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"
Segi pengambilan dalil dengan ayat ini adalah bahwasanya Allah SWT. mununjukkan dalil terhadap apa yang diingkari oleh para pengingkar kebangkitan berdasarkan qiyas. Allah SWT. mengqiyaskan pengembalikan makhluk-makhluk setelah lenyap dengan permulaan penciptaannya pada yang pertama kali. Hal ini dimaksudkan untuk menundukkan orang-orang yang ingkar, bahwasanya Tuhan yang mampu memulai penciptaan sesuatu untuk yang pertama kali adalah Maha Kuasa untuk mengembalikkannya lagi, bahkan hal tersebut lebih ringan bagi-Nya. Penggunaan dalil dengan qiyas ini merupakan pengakuan terhadap kehujjahan qiyas dan keabsahan menggunakan dalil dengannya.
Kelompok Zhahiriyah menolak argumentasi ini. Mereka berpandangan bahwa maksud ayat tersebut hanyalah sebagaimana arti lahirnya, yaitu : yang sanggup menciptakan sesuatu pertama kali, sanggup pula menghidupkan orang mati.
b.             As-Sunnah

Dalil-dalil As-Sunnah itu, antara lain adalah :
Pertama, Sabda Rasulullah saw. dalam membai’at Mu’adz bin Jabal sebagai Walikota di Yaman, yang artinya :
 “Bahwasanya Rasulullah saw. ketika hendak mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bertanya : “Dengan cara apa engkau menetapkan hukum seandainya kepadamu diajukan sebuah perkara?”. Mu’adz menjawab : “Saya akan menetapkan hukum berdasarkan Kitab Allah. Jika saya tidak menemukannya, maka saya akan memutuskan berdasarkan sunnah Rasulullah saw., kemudian jika saya tidak menemukannya, maka saya akan berijtihad, dan saya tidak akan sembrono”. Lantas Rasulullah saw. menepuk-nepuk dadanya dan berkata : “Segala puji adalah bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah kepada apa yang diridhai oleh Rasulullah saw”.
Segi pengambilan dalil dengan ayat ini adalah bahwasanya Rasulullah saw. mengakui Mu’adz untuk berijtihad, apabila ia tidak menemukan nash yang dia digunakan untuk memberi putusan, baik dalam kitab Al-Qur’an maupun sunnah. Sedangkan ijtihad adalah mencurahkan segala kemampuan untuk sampai kepada hukum. Ijtihad ini juga meliputi qiyas, karena sesungguhnya qiyas merupakan bagian dari ijtihad dan istidlal, sedangkan Rasulullah saw. tidaklah mengakui ijtihad dengan suatu bentuk istidlal saja tanpa bentuk lainnya. Hadis tersebut merupakan dalil Sunnah yang kuat, menurut jumhur ulama, tentang kekuatan qiyas sebagai dalil syara’.
Namun hadis ini ditolak oleh Zhahiri, baik dari segi matan maupun dari segi sanad. Menurut Zhahiri dari segi sanad hadis ini dianggap gugur, karena tidak seorangpun yang meriwayatkan hadis ini di luar jalur periwayatan ini. Kelompok ulama Zhahiri juga menilai bahwa hadis tersebut maudhu’ dan jelas kebohongannya, karena mustahil ada hukum yang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an. Dari segi artinya, menurut Zhahiri, hadis Mu’adz itu tidak sedikitpun menyebut tentang qiyas dengan cara apapun. Dalam hadis ini hanya disebutkan penggunaan ra’yu; penggunaan ra’yu tidaklah berarti qiyas.
Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. yang artinya :
“Bahwa seorang perempuan dari qabilah Juhainah menghadap kepada Rasulullah saw., seraya bertanya, katanya: Hai Rasulullah, Ibuku telah bernadzar mengerjakan haji, tetapi ia tidak sempat mengerjakannya sampai meninggal dunia, apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya?.” “Betul,” jawab Rasulullah, “kerjakanlah haji untuknya. Tahukan kamu, andai kata ibumu mempunyai hutang, maka kamu orang yang melunasinya?” “ya, demikianlah,” katanya. “tunaikanlah hutang-hutang Allah, sebab Allah itu adalah lebih hak untuk dipenuhi.” (HR. Bukhari dan An-Nasa’i)
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. mengqiyaskan hutang kepada Allah SWT. dengan hutang kepada sesama manusia. Sebab setiap hutang itu wajib dilunasinya. Kemudian beliau menyamakan haji dengan hutang hal hukum dibolehkannya bagi anak menyelesaikan kewajiban ayahnya dan dapat membebaskan pertanggungjawaban ayahnya.
Ketiga, hadits yang diriwayatkan oleh Umar ra., yang artinya:
“Pada suatu hari aku terpesona, lalu aku mencium (istriku), padahal aku dalam keadaan berpuasa. Kemudian aku menghadap Nabi Muhammad saw. terus bertanya: “Hari ini aku telah melakukan perkara yang besar, yakni aku mencium istriku, sedang aku berpuasa.” Lalu Rasulullah saw. menjawab, sabdanya “Bagaimanakah kamu sedang berpuasa?” Hal itu tak mengapa,” sahutku. “Maka kenapa (kau tanyakan) ? jawab Rasul lebih lanjut.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Dalam hadits Umar ini, Rasulullah saw. mengqiyaskan mencium dengan berkumur, karena adanya persamaan dari keduanya, yaitu masing-masing sebagai tindakan permulaan. Berkumur adalah tindakan permulaan untuk minum, sedangkan mencium sdslsh tindakan permulaan untuk mengadakan hubungan seks. Kemudian beliau menyamakan hukum dari keduanya, yakni merusakkan puasa.
c.              Perbuatan dan perkataan sahabat

Para sahabat sering kali berijtihad terhadap peristiwa-peristiwa yang tidak ada nashnya dan mengqiyaskan peristiwa-peristiwa yang tidak ada nashnya itu dengan peristiwa-peristiwa yang sudah ada nashnya. Seperti mengqiyaskan kekhilafan dengan imamah shalat. Dalam peristiwa pembai’atan mereka terhadap Abu Bakar ra. untuk menjadi khalifah diqiyaskan kepada Nabi Muhammad saw. yang menyuruh Abu Bakar ra. mengimami shalat, sebagai ganti pada waktu beliau sakit. Mereka berkata: “Rasulullah saw. telah meridhai untuk urusan agama, maka kenapa kita tidak meridhai urusan keduniaan kita?”
Ternyata argumen ini dipahami sahabat (yang hadir dalam pertemuan itu), sehingga mereka sepakat untuk mengangkat Abu Bakar dengan cara tersebut.

Umar bin Khathab ra. pernah berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari, yaitu:
....... Kemudian pahamilah hal-hal yang dikemukakan kepadamu yang tidak ada nashnya dari Al-Qur’an dan tidak pula dari As-Sunnah. Kemudian qiyaskanlah antara perkara-perkara yang terdapat pada saat itu dan ketahuilah diantaranya mana yang memadai ‘illatnya lalu pegangilah apa yang saudara lihat lebih disukai oleh Allah dan mendekati kebenaran.”
Alur pemikiran ini ditolak oleh Zhahiri dengan mengatakan bahwa penunjukan Abu Bakar oleh Rasul sebagai Imam shalat bukan alasan kuat untuk penunjukannya sebagai khalifah. Jika itu dijadikan alasan, maka niscaya Abu Bakar tidak lebih utama dari Ali menjadi khalifah, karena Ali pun pernah diserahi Rasul menjadi imam shalat di Madinah waktu perang Tabuk yang merupakan perang terakhir bagi Rasul.  Karena itu, menurut Zhahiri mengqiyaskan kasus penggantian tersebut yang berhubungan dengan shalat dan hukum, akan lebih tepat untuk mengqiyaskan penggantian terhadap shalat saja. Seseorang yang diangkat menjadi khalifah sesudah wafat Rasul adalah dalam hal sifat pribadinya yang selalu memperhatikan umat.
Kelompok Zhahiri juga berpendapat bahwa pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah bukan melalui qiyas dengan penunjukan Rasul sebagaimana imam shalat, tetapi karena pada waktu itu Abu Bakar adalah orang yang paling utama di antara para sahabat Rasul. Ketentuan tentang imamah adalah pada kriteria sebagai orang yang paling utama.
d.             Logika

Analisa-analisa logis yang digunakan untuk menetapkan kehujjahan Qiyas adalah sebagai berikut:
1.             Allah SWT. tidak menetapkan hukum bagi hamba-Nya sekiranya untuk kemashlahatan hamba itu. Kemashlahatan hamba inilah yang menjadi tujuan akhir diciptakan suatu perundang-undangan. Karena itu apabila ada suatu peristiwa yang tidak ada nashnya, akan tetapi ‘illatnya sesuai benar dengan ‘illat suatu peristiwa yang sudah ada nashnya dan diduga keras pula dapat memberikan kemashlahatan kepada hamba, maka adillah kiranya jika ia disamakan hukum-nya dengan peristiwa yang sudah ada nashnya itu demi merealisir kemashlahatan yang dicita-citakan oleh undang-undang.
2.             Nash-nash al-Qur’an dan As-Sunnah terbatas jumlahnya dan ada habisnya. Sedangkan kejadian dan persoalan pada manusia itu tidak terbatas dan tidak berakhir. Oleh karena itu tidak mungkin nash-nash yang terbatas itu dijadikan sebagai sumber terhadap kejadian-kejadian yang tidak terbatas. Dengan demikan Qiyas merupakan sumber-sumber perundang-undangan yang dapat mengikuti kejadian-kejadian baru dan dapat menyesuaikan dengan kemashlahatan.
3.             Qiyas adalah dalil yang sesuai dengan naluri manusia dan logika yang sehat. Oleh karena itu jika dilarang minum suatu minuman disebabkan karena minuman itu mengandung sifat yang memabukkan, maka logislah kalau setiap minuman yang memabukkan. Dan jika diharamkan menjalankan suatu transaksi harta benda disebabkan karena transaksi itu mengandung unsur penghianatan dan penganiayaan terhadap orang lain, karena unsur tersebut hukumnya adalah haram.
Para ulama yang tidak menerima Qiyas sebagai dasar hukum, yang mereka kenal dengan nama “Nufatul Qiyas,” mengemukakan alasan-alasan sebagai berikut, yaitu :
a.              Qiyas itu adalah didasarkan kepada zhann (dugaan keras). Karena ‘illat hukum suatu peristiwa yang mempunyai nash itupun berdasarkan dugaan keras pula. Misalnya memukul kedua orang tua hukumnya adalah haram, diqiyaskan kepada larangan menghardik mereka. Karena menurut dugaan yang keras ‘illat dari haramnya menghardik kedua orang tua itulah menyakiti hati mereka. Sedangkan memukul orang tua itu pun menyakiti mereka pula. Oleh karena itu hukumnya haram pula. Hukum itu berdasarkan zahanni (duga-dugaan). Padahal Allah SWT. melarang mengikuti sesuatu yang berdasarkan zhann, Allah swt berfirman, yang artinya :
Jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan dari hal itu.....” (QS. Al-Isra’ : 36)
Dengan demikian, maka hukum itu tidak sah ditetapkan berdasarkan kepada Qiyas, karena Qiyas itu berdasarkan zhann.
b.             Qiyas itu adalah berdasarkan kepada pandangan yang berbeda-beda dalam menetapkan ‘illat suatu hukum. Oleh karena itu, maka hal tersebut akan menimbulkan hukum yang berbeda-beda dan saling berlawanan. Sedangkan dalam syari’at yang bijaksana tidak boleh terjadi adanya pertentangan dan perbedaan mengenai hukum-hukum yang dimuatnya.
c.             Bahwa sebagian sahabat telah mencela cara menetapkan hukum hanya berdasarkan pendapat logika. Misalnya Umar ra. mencela hal itu. Katanya :

اِيَّاكُمْ وَاَصْحَابَ الرَّأْىِ فَإِ نَّهُمْ اَ عْدَ اءُالسُّنَنِ.اَعْيَتْهُمُ اْلاَحَادِيْثُ اَ نْ يَحَفَظُوْ هَا فَقَا لُوْا بِالَرَّأْىِ فَضَلُّوْاْوَاَضَلُّوْا.
“Hati-hatilah terhadap orang-orang ahli fikir. Sebab mereka adalah musuh ahli sunnah, yang (karena) hadits-hadits itu membuat mereka tidak berdaya untuk dihafalkannya, mereka lalu mengatakan dengan fikiran. (Akibatnya) mereka tersesat dan menyesatkan.”
Jumhur ulama yang menerima Qiyas sebagai sumber hukum membantah pendapat golongan yang menolak Qiyas sebagai sumber hukum, yaitu sebagai berikut :
1)             Pendapat golongan Nafatul Qiyas yang mengatakan bahwa menetapkan hukum berdasarkan qiyas itu sama dengan menetapkan hukum berdasarkan zhann adalah batal. Sebab mengikuti zhann dilarang dalam QS. Al-Isra’ : 36, Allah SWT. berfirman :
Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ .
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya...”. (Q.S. Al-Isra’ : 36).
Oleh karena itu menetapkan hukum berdasarkan qiyas adalah tidak sah, karena sesungguhnya hal itu adalah mengikuti dugaan. Dan tidak ada faedah dari suatu persangkaan untuk mencapai kebenaran seperti yang tercantum dalam QS. An-Najm : 28, yaitu :
$tBur Mçlm; ¾ÏmÎ/ ô`ÏB AOù=Ïæ ( bÎ) tbqãèÎ7­Ftƒ žwÎ) £`©à9$# ( ¨bÎ)ur £`©à9$# Ÿw ÓÍ_øóムz`ÏB Èd,ptø:$# .$\«øx©
“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang hal itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berguna sedikitpun untuk (mencapai) kebenaran.” (QS. An-Najm :28).
Demikian juga zhann yang dikatakan sebagai sedusta-dusta pembicaraan dalam hadits :
اِجْتَنِبُوْاكَثِيْرًامِنَ الظَّنِّ,فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَ بُ الْحَدِيْثِ.
“Jauhilah purbasangka, karena purbasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan....” (HR. Bukhari-Muslim).
Zhann yang tidak mempunyai kesan baik di dalam jiwa seseorang, seperti su’uzh zhann (buruk sangka) terhadap manusia yang membawa akibat jeleknya perhubngan atau membahayakan mereka, bukan zhann yang dapat menjaga kejelekan atau menarik kebaikan. Dan inilah yang diisyaratkan oleh Tuhan dalam firman-Nya :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) .
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu adalah dosa....” (Q.S. Al-Hujaraat : 12).
Dalam ayat tersebut Tuhan tidak mengatakan dengan “jauhilah setiap purbasangka” dan pula tidak mengatakan “ sesungguhnya setiap purbasangka itu adalah dosa.”


C.           Rukun-rukun Qiyas

Untuk menerapkan qiyas haruslah terpenuhi empat rukun, yaitu : ashl (pokok), hukum ashl, far’ (cabang), dan ‘illat, yaitu :
a)             Asal (pokok), yaitu sesuatu yang ada nash hukumnya.
b)             Fara’ (cabang), yaitu sesuatu yang belum ada nash hukumnya.
c)             Hukmu al-asal , yaitu hukum syara’ yang ada dalam nashnya dalam hukum asalnya. Yang kemudian menjadi ketetapan hukum untuk fara’.
d)            Illat, adalah sifat yang dijadikan dasar untuk membentuk hukum pokok, dan berdasarkan adanya keberadaan sifat itu pada cabang, maka ia disamakan dengan pokoknya dari segi hukumnya.


0 komentar: