Kamis, 16 Mei 2013

0

Problematika Masyarakat dan Perlunya Akhlak Tasawuf

Posted in ,


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Problematika Masyarakat
Kemajuan di bidang teknologi pada zaman modern ini telah membawa manusia ke dalam dua sisi, yaitu bisa memberi nilai tambah (positif), tapi pada sisi laian dapat mengurangi (negatif). Efek positifnya tentu saja akan menigkatkan keragaman budaya melalui penyediaan informasi yang menyeluruh sehingga memberikan orang kesempatan untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan baru dan meningkatkan produksi. Sedangkan efek negatifnya kemajuan teknologi akan berbahaya jika berada di tangan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap. Mereka dapat menyalahgunakan teknologi untuk tujuan-tujuan yang destruktif dan mengkhawatirkan.[1]
Misalnya penggunaan teknologi kontrasepsi dapat menyebabkan orang dengan mudah dapat melakukan hubungan seksual tanpa harus takut hamil atau berdosa. Jaringan-jaringan peredaran obat-obat terlarang, tukar menukar informasi, penyaluran data-data film yang berbau pornografi di bidang teknologi komunikasi seperti komputer, faximile, internete, dan sebagainya akan semakin intensif pelaksanaannya.
Hal tersebut di atas adalah gambaran-gambaran masyarakat modern yang obsesi keduniaannya tampak lebih dominan ketimbang spritual. Kemajuan teknologi sains dan segala hal yang bersifat duniawi jarang disertai dengan nilai spiritual.
Menurut Sayyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan kenamaan dari Iran, berpandangan bahwa manusia modern dengan kemajuan teknologi dan pengetahuaannya telah tercebur ke dalam lembah pemujaan terhadap pemenuhan materi semata namun tidak mampu menjawab problem kehidupan yang sedang dihadapinya. Kehidupan yang dilandasi kebaikan tidaklah bisa hanya bertumpu pada materi melainkan pada dimensi spiritual.[2] Jika hal tersebut tidak diimbangi akibatnya jiwa pun menjadi kering, dan hampa. Semua itu adalah pengaruh dari sekularisme barat, yang manusia-manusianya mencoba hidup dengan alam yang kasat mata.
Menurut Nashr, manusia barat modern memperlakukan alam seperti pelacur. Mereka menikmati dan mengeksploitasi alam demi kepuasan dirinya tanpa rasa kewajiban dan tanggung jawab apa pun. Nashr melihat, kondisi manusia modern sekarang mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar dan bersifat spiritual, mereka gagal menemukan ketentraman batin, yang berarti tidak ada keseimbangan dalam diri. Hal ini akan semakin parah apabila tekanannya pada kebutuhan materi semakin meningkat sehingga keseimbangan semakin rusak. Oleh karena itu, manusia memerlukan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya.[3]
Dalam berbagai kemajuan teknologi masyarakat modern juga mengalami berbagai problematika seperti :
1.        Semua kemajuan teknologi menuntut pengorbanan, yakni dari satu sisi teknologi memberi nilai tambah, tapi pada sisi lain dapat mengurangi
2.        Nilai-nilai manusia yang tradisional, misalnya harus dikorbankan demi efisiensi.
3.        Semua kemajuan teknologi lebih banyak menimbulkan masalah ketimbang memecahkannya.
4.        Efek negatif teknologi tidak dapat dipisahkan dari efek positifnya. Teknologi tidak pernah netral. Efek negatif dan positif terjadi serentak dan tidak terpisahkan
5.        Semua penemuan teknologi mempunyai efek yang tidak terduga.
Sedangkan di tinjua dari sikap mental kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern sebagai berikut :
1)    Deseintegrasi Ilmu Pengetahuan
Banyak ilmu yang berjalan sendiri-sendiri tanpa ada tali pengikat dan penunjuk jalan yang menguasai semuanya, sehingga kian jauhnya manusia dari pengetahuan akan kesatuan alam.[4]
Kehidupan modern antara lain ditandai dengan adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki paradigma (cara pandang)nya sendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

2)    Kepribadian yang terpecah (split personality)
Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual dan terkotak-kotak, maka manusianya menjadi pribadi yang terpecah, akibatnya kini tengah menggelinding proses hilangnya kekayaan rohaniah karena jauhnya dari ajaran agama. karena dibiarkannya perluasan ilmu-ilmu positif (ilmu yang hanya mengandalkan fakta-fakta empirik, obyektif, rasional, dan terbatas).[5]
3)    Penyalagunaan Iptek

Sebagai akibat dari terlepasnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spritual, maka iptek telah disalah gunakan dengan segala implikasi negatifnya, sebagaimana disebutkan di atas. Kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan penjajahan satu bangsa atau bangsa subversi dan lain sebagainya.[6]

4)    Pandangan Iman
Sebagai akibat lain dari pola pikiran keilmuan tersebut di atas, khususnya ilmu-ilmu yang hanya mengakui fakta-fakta yang bersifat empiris menyebabkan manusia dangkal imannya, ia tidak tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh wahyu, bahkan informasi yang di bawa oleh wahyu itu menjadi bahan tertawaan dan dianggap sebagai tidak ilmiah dan kampungan.[7]
5)    Pola hubungan materalistik

Pola hubungan satu dengan hubungan yang lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat material. Demikian pula penghormatan yang diberikan seseorang atas orang lain banyak diukur oleh sejauh mana orang tersebut dapat memberikan manfaat secara material. Akibatnya ia menempatkan pertimbangan material di atas pertimbngan akal sehat, hati nurani, kemanusian dan imannya.8[8]





6)    Menghalalkan Segala Cara

Sebagai akibat lebih jauh dari dangkalanya iman dan pola hidup materialistik sebagaimana disebutkan di atas, maka manusia dengan mudah dapat menggunakan prinsip menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.

7)    Stres dan Frustasi

Kehidupan modern yang demikian kompetitif menyebabkan manusia harus mengerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya. Manusia mengerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya untuk terus bekerja tanpa mengenal batas dan kepuasan. Sehingga apabila ada hal yang tidak bisa dipecahkan mereka stres dan frustasi.

8)    Kehilangan Harga diri dan Masa depannya
Mereka menghabiskan masa mudanya dengan memperturutkan hawa nafsu dan menghalalkan segala cara. Namun ada suatu saat tiba waktunya mereka tua segala tenaga, fisik, fasilitas dan kemewahan hidup sudah tidak dapat mereka lakukan, mereka merasa kehilangan harga diri dan masa depannya.
Terdapat sejumlah orang yang terjerumus atau salah memiliha jalan kehidupan masa mudahnya dihabiskan untuk memperturutkan hawa nafsu dan segala daya dan cara telah ditempuhnya. Namuna da suatu saat dimana ia sudah tua renta, fisiknya sudah tidak berdaya, tenaganya sudah tidak mendukung, dan berbagai kegiatan sudah tidak dapat ia lakukan.
Berdasarkan uraian panjang di atas dapat penulis simpulkan bahwa problematika yang dihadapi masyarakat di zaman modern berbagai problematika seperti stres dan prustasi, kehilangan akal pikiran yang sehat serta menghilangkan harga diri dan masa depannya
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Desintegrasi ilmu pengetahuan
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Kepribadian yang Terpecah
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Penyalahgunaan Iptek
Berbagai iptek disalahgunakan dengan segala efek negatifnya sebagaimana disebutkan di atas.
<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Pendangkalan Iman
<!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Pola Hubungan Materialistik
<!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->Menghalalkan Segala Cara
Karena dangkalnya iman dan pola hidup materialistik manusia dengan mudah menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.
<!--[if !supportLists]-->7. <!--[endif]-->Stres dan Frustasi
<!--[if !supportLists]-->8. <!--[endif]-->Kehilangan Harga Diri dan Masa Depannya
B.       Perlunya Pengembangan Akhlak Tasawuf
Intisari ajaran tasawuf adalah bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadarannya itu berada di hadirat-Nya. Tasawuf perlu dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat dengan beberapa tujuan, antara lain:
Pertama, untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kebingungan dan kegelisahan yang mereka rasakan sebagai akibat kurangnya nilai-nilai spiritual.
Kedua, memahami tentang aspek asoteris islam, baik terhadap masyarakat Muslim maupun non Muslim. Ketiga, menegaskan kembali bahwa aspek asoteris islam (tasawuf) adalah jantung ajaran islam. Tarikat atau jalan rohani (path of soul) merupakan dimensi kedalaman dan kerahasiaan dalam islam sebagaimana syariat bersumber dari Al-Quran dan Al- Sunnah. Betapapun ia tetap menjadi sumber kehidupan yang paling dalam, yang mengatur seluruh organisme keagamaan dalam
islam. <!--[if !supportFootnotes]-->[6]<!--[endif]--> Ajaran dalam tasawuf memberikan solusi bagi kita untuk menghadapi krisis-krisis dunia. Seperti ajaran tawakkal pada Tuhan, menyebabkan manusia memiliki pegangan yang kokoh, karena ia telah mewakilkan atau menggadaikan dirinya sepenuhnya pada Tuhan.
Selanjutnya sikap frustasi dapat diatasi dengan sikap ridla. Yaitu selalu pasrah dan menerima terhadap segala keputusan Tuhan. Sikap materialistik dan hedonistik dapat diatasi dengan menerapkan konsep zuhud. Demikan pula ajaran uzlah yang terdapat dalam tasawuf. Yaitu mengasingkan diri dari terperangkap oleh tipu daya keduniaan. Ajaran-ajaran yang ada dalam tasawuf perlu disuntikkan ke dalam seluruh konsep kehidupan. Ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan lain sebagainya perlu dilandasi ajaran akhlak tasawuf.
Tasawuf telah mengisi dahaga spiritual kehidupan masyarakat yang memang cenderung untuk menurutkan kepada kemauan hawa nafsu. Mempelajari tasawuf akan memberikan wawasan yang kaya kepada kita tentang salah satu khazanah Islam. Akan mengantarkan kita menjadi lebih toleran terhadap segala perbedaan yang ditimbulkan akibat dari praktek-praktek tasawuf. Mempelajari tasawuf akan menghindarkan kita terjebak dari dikotomi pembenci dan pemuja tasawuf, dikotomi syari’at dan hakikat, karena sesungguhnya Islam tidak pernah mengenal dikotomi itu. Islam adalah Syari’at dan Hakikat sekaligus, tidak tidak terpisah-pisah apalagi harus dipertentangkan.
Tasawuf mengajarkan bagaimana seseorang harus menghiasi dirinya dengan nilai-nilai akhlak yang mulia, seperti : senantiasa bersifat ikhlas, sabar, tawadhu’, ridla, berkatadan berbuat jujur, mensmpilksn perilaku yang mulia, tawakkal, dan berbagai praktek akhlakul karimah lainnya. Mengajarkan tentang kepedulian kepada kaum yang tertindas, kelompok kaum miskin, yaitu senantiasa peduli dan rela membantu terhadap segala kesusahan mereka.
Sisi lain dari pentingnya mempelajari tasawuf adalah berkaitan dengan perkembangan masyarakat modern. Penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantarkan kehidupan manusia layaknya seperti dewa sebelum ia menjadi manusia yang sesungguhnya.
Dengan mempelajari tasawuf akan mengantarkan kita untuk dapat menemukan ketentraman, kedamaian dan menemukan makna hidup yang sesungguhnya di tengah pergumulan kita sehari-hari dengan roda kehidupan yang tidak pernah berhenti.
<!--[if !supportFootnotes]-->

<!--[endif]-->
<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]--> W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), hlm 636.
<!--[if !supportFootnotes]-->[2]<!--[endif]--> Deliar Noer, Pembangunan di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1987), hlm 24.
<!--[if !supportFootnotes]-->[4]<!--[endif]-->Agussyafii.blogspot.com/2007/12/problem-dan-solusi-masyarakat-modern.html
<!--[if !supportFootnotes]-->[5]<!--[endif]-->Sayyed Hossein Nashr, Man and Nature…….. 57.
<!--[if !supportFootnotes]-->[6]<!--[endif]-->Sayyed Hossein Nashr, ideals and realities of islam ….. hlm 121.



1Abudin Nata, Akhlaq Tasawuf, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997), hlm 286.
2 Agussyafii.blogspot.com/2007/12/problem-dan-solusi-masyarakat-modern.html.
3 Sayyed Hossein Nashr, Man and Nature. hlm 57.

4 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), hlm 636.
5 Deliar Noer, Pembangunan di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1987), hlm 24.
6 Asmaran As, Op.Cit, hlm.74.
7 Abu Bakkar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Ramadani, Solo, 1994, hlm. 342.
8 Hamka, Tasawuf Perkembangan, Pustaka Panji Mas, Jakarta, 1994, hlm.100.

0 komentar: